Senin, 15 Juni 2009

Tangan Yang Menunjukkan Kasih

Kasih adalah pemberian tanpa syarat kepada orang lain. Pribadi yang mampu mengasihi tanpa syarat adalah pribadi yang mampu mengasihi dirinya, melihat dirinya berharga dan mulia.
Pada jaman Petrus ada seorang murid perempuan di Yope bernama Tabita atau bisa dikenal dengan sebutan Dorkas, ia dikenal sebagai wanita yang murah hatinya dan penuh kebaikan. Sebagian besar penduduk di Yope kala itu memiliki mata pencaharian sebagai pelaut, dengan resiko yang kemungkinan besar dialami oleh para pria yang pergi berlayar adalah mengalami karam kapal. Itu sebabnya adalah hal yang umum kalau di Yope banyak janda maupun anak yatim. Bagi Dorkas keadaan ini bukanlah semata keadaan yang lazim, imannya dapat melihat bahwa ada kebutuhan khusus yang perlu ditanggapi dan dia menyediakan diri serta talenta yang ada padanya untuk melakukan apa yang dapat dilakukan.

Allah yang adalah sumber segala kreatifitas memampukan Dorkas untuk melihat dan mengisi setiap kekosongan hati para janda tersebut. Dorkas akrab dengan lingkungan dan pergumulan para janda dan dengan kemampuan menjahit yang ada padanya ia melayani mereka dengan membuatkan baju. Jarum dan benang adalah alat yang yang dipakai Tuhan dalam tangan Dorkas untuk mendatangkan Kerajaan Allah di lingkungannya.
Ada yang menafsirkan bahwa Dorkas adalah wanita single yang tidak menikah, namun ada juga yang mengulas bahwa Dorkas adalah seorang janda. Apapun penafsirannya, Alkitab memang tidak menyebutkan tentang suami maupun status pernikahannya. Tapi kebenaran yang memberikan kemerdekaan dalam hidup Dorkas membuatnya hidup merdeka. Dorkas puas dengan keberadaannya dan tahu bahwa dia berharga karena Tuhan yang membuatnya berharga.

Yang menarik dari kisah hidup Dorkas adalah lewat kehidupan, kematian dan kebangkitannya dari kematian (lewat pelayanan Petrus), Allah menjadi nyata dalam hidupnya. Tidak ada yang tidak menarik orang untuk ingin mengenal Allah yang disembah oleh Dorkas. Dapatkah kita bayangkan bagaimana Dorkas menjadi lebih “sibuk” setelah kedatangan Petrus? Dorkas punya kisah nyata yang lebih menarik untuk diceritakan kepada mereka disekelilingnya yang belum mengenal Tuhan. Saya yakin, sejak saat itu Dorkas bukan saja menjahit lebih banyak baju, tapi dia juga “sibuk” membagikan cerita hidupnya dan apa yang Tuhan sudah lakukan dalam hidupnya. Kebangkitannya dari kematian menjadi peristiwa paling heboh dan menjadi buah bibir banyak orang.

Dorkas adalah gambaran dari apa yang Rasul Paulus ungkapkan di 2 Korintus 4 : 7, “ Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Dorkas sadar bahwa apa yang dia lakukan bukan karena kekuatannya, tetapi karena Allah. Kebangkitannya dari kematian adalah bukti nyata kuasa Allah dalam hidupnya. Hidup Dorkas adalah hidup yang berbuah tetap bagi Kerajaan Allah. (aa/cc)

Sumber: http://www.wanitabijak.com/

Jumat, 12 Juni 2009

70 Kosmetik Dilarang Beredar

70 Merek kosmetik yang beredar di pasaran dinyatakan dilarang. Sebab, kosmetik itu dipastikan mengandung zat kimia berbahaya bagi kesehatan. Zat kimia itu antara lain Merkuri, Hidrokinon, dan Asam Retinoat dan bahan pewarna merah K.3.

"Merkuri atau air raksa merupakan logam berat berbahaya yang merupakan racun. Bahan pemerah K.3 yang biasa digunakan untuk mewarnai kertas," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Husniah Rubiana, di kantornya, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2009).

70 merek kosmetik itu terbagi 4 kategori yaitu rias wajah dan mata (18 merek), pewarna rambut (7), perawatan kulit (44), dan sabun mandi (1).

Beberapa merek antara lain Olay 4 in 1 Complete Make Up, Pond's Detox Complete Beuty Care, Sutsyu lipstick color fix No.5, Casandra hair dye, Dr. Fredy Setyawan whitening cream II, Top-Gel MCA Extra Pearl Cream, Olay Total white cream, Pond's Age Miracle day and night cream, dan Jinzu strawbery white and beauty soap.

Hanya saja, sejumlah merek di atas merupakan merek palsu yang nebeng terkenal. "Seperti Pond's, itu yang palsu dan tidak dikeluarkan oleh produsennya. Hanya nebeng terkenal saja,"

Puluhan merek itu dinyatakan dilarang beredar. Jika masih nekat dipasarkan, akan dijerat UU No.23/1992 tentang Kesehatan. Ancamannya 5 tahun penjara atau denda Rp 100 juta.

Kalau bicara soal kosmetik palsu, korbannya bisa dipastikan sebagian besar adalah kaum wanita. Alih-alih cantik, petaka yang didapat.

Sumber: Yahoo News

Rabu, 10 Juni 2009

Pilih Pintar Atau Cantik? Milikilah Keduanya

Menurut sebuah riset, memiliki penampilan fisik yang menarik dan juga kepandaian bisa berdampak terhadap penghasilan Anda. Jika Anda sedang mencari pekerjaan, ketahuilah bahwa kepandaian Anda bukanlah satu-satunya pertimbangan agar Anda diterima kerja. Penelitian menemukan bahwa penampilan yang menarik dan ditambah kepercayaan diri akan membantu Anda mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan.

"Hanya sedikit orang yang tahu mengapa ada perbedaan pendapatan antara mereka yang penampilanya menarik dengan mereka yang tidak begitu menarik, " demikian ungkap Timothy Judge, Ph.D dari University of Florida. "Kami menemukan bahwa sekalipun orang tersebut memiliki kepandaian, orang yang merasa dirinya berharga dan tampil dengan menarik akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi."

Jadi, secara rata-rata orang yang penampilannya menarik, mereka memiliki pendidikan lebih baik dan lebih percaya diri, hal itu membuat mereka mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.

Riset tersebut juga menemukan orang yang berpenampilan menarik memiliki kecenderungan menilai dirinya lebih tinggi dari kapasitas mereka, hal ini membuat mereka memiliki kepercayaan diri dan memampukan mereka menjual dirinya dengan lebih tinggi dan menghasilkan uang yang lebih besar.

Namun pada saat ini, penilaian suatu perusahaan masih menitik beratkan pada tingkat pendidikan, kepandaian dan keahlian seseorang dan juga kemampuan kepemimpinannya. Namun tidak ada salahnya untuk Anda tampil menarik dan penuh percaya diri dalam pekerjaan. Penampilan Anda akan menceritakan nilai-nilai apa yang Anda pegang.


Sumber: apa.org/VM

Ibu Hamil Pantang Makanan Beralkohol

Sudah bisa dipastikan alkohol berbahaya untuk ibu hamil. Konsumsi alkohol pada ibu hamil dapat membahayakan janin. Namun bagaimana dengan alkohol yang “tersembunyi” di makanan dan minuman? Berbahayakah?

Alkohol jelas berbahaya untuk janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Tahun 1968 seorang dokter asal Prancis, P. Lemoine menemukan hubungan kelainan yang diderita 127 balita dengan kebiasaan ibu minum alkohol selama hamil, yang disebut Fetal Alcohol Syndrome (FAS). Selain itu, alkohol juga dapat membuat tingkat kecerdasan dan kemampuan kognitif anak menurun jika dibandingkan dengan anak-anak sebayanya.

Bayi yang mengidap Fetal Alcohol Syndrome (FAS) akibat ibu minum alkohol selama hamil, memiliki ciri:
  • Lahir dengan berat badan di bawah normal (BBLR).
  • Panjang tubuh saat lahir lebih pendek dari normal.
  • Lingkar kepala lebih kecil.
  • Menderita kelainan pertumbuhan dan pembentukan wajah.
  • Menderita kelainan persendian tungkai dan lengan.
  • Kemampuan koordinasi gerakan tubuh lambat.
  • Mengalami gangguan belajar.
  • Ingatan pendek, tidak mampu mengingat dalam jangka panjang.
Alkohol pada makanan. Masalahnya, seringkali kita tidak mengetahui bahwa di dalam makanan tersebut mengandung alkohol. Lalu bagaimana? Apakah aman mengonsumsi makanan yang mengandung alkohol?

Belum ada kesepakatan di kalangan ahli tentang jumlah alkohol yang aman dikonsumsi ibu hamil. Ada yang menyatakan aman bila hanya minum sesekali, ada juga yang sama sekali melarang. Riset membuktikan, pemberian alkohol dosis kecil pada hewan percobaan menunjukkan adanya kerusakan sel otak dan gangguan saraf. Namun, riset sejenis belum dapat dilakukan pada manusia karena teknis risetnya (pemberian dengan sengaja) dinilai kurang etis.

Karena masih terjadi pro-kontra tentang konsumsi alkohol selama hamil serta batas volume alkohol yang aman bagi janin, agar tumbuh-kembang janin lancar dan “sucihama” sebaiknya saat hamil sama sekali tidak mengonsumsi alkohol, termasuk yang ada di makanan.

Karena itu, ketahui alkohol yang “tersembunyi” di makanan dan obat agar bisa dihindari sama sekali atau dikonsumsi secara bijak.
  • Alkohol sebagai penyedap masakan, populer di masakan Cina, Jepang, Korea dan Western food. Penyedap ini ada yang berupa Ang Chiu, yang biasanya digunakan untuk penyedap masakan untuk daging, tim ayam, sea food dan sayur mayur, Lo Wong Chiu, saus penyedap masakan daging, tim ayam, sea food dan sayur mayur, atau cooking wine untuk tumisan. Aroma muncul saat dipanaskan dan alkohol dibubuhkan ke wajan.
  • Alkohol di kue, umumnya kue “impor” dari Barat seperti Black Forest, vla di Sus, Rhum Balls dan Butter Rhum Cake yang mengandung rhum dengan kadar alkohol 30%. Cherry Nougat dan Brandy Snaps mengandung brandy, Chocolate Coffee Liqueur mengandung liqueur.
  • Alkohol di BBQ, untuk melunakkan daging dan menciptakan aroma khas. Jenisnya, arak putih atau anggur beras ketan.
  • Alkohol di mie; mie goreng ayam, udang, sea food kadang ditambahkan arak putih, arak merah atau mirin untuk menambah selera.
  • Alkohol di campuran minuman; minuman ala kafe dengan nama atraktif dan berkonotasi buah seperti avacado fload, lemon squash, orange punch kadang dibubuhi rhum atau alkohol lain untuk menimbulkan sensasi khusus. Tanyakan ke pramusaji.
  • Alkohol di obat; digunakan sebagai pelarut bahan obat. Anggur Beras Putih digunakan sebagai rendaman obat Thionghoa.
  • Alkohol di hidangan tradisional; Tape ketan, tape singkong, brem, legen, tuak, atau durian fermentasi, kandungan alkohol meningkat seiring bertambahnya waktu. Contoh, fermentasi tape sehari kandungan alkoholnya 1,7%, 2 hari 3,3%. Makin tinggi lagi jika keluar cairan.
  • Alkohol di permen atau cokelat; Misal, liqueur di permen cokelat, kandungan alkoholnya sebanyak takaran yang dimasukkan ke adonan. Kadang tercantum di kemasannya.
Hmm.. Sayang memang kalau jenis-jenis makanan di atas salah satunya adalah makanan favorit Anda. Tapi demi bayi Anda, tentunya Anda rela dong untuk pantang makan makanan yang disukai tersebut?

Sumber: ayahbunda.co.id

Bobot naik lagi???

Mengikuti diet tertentu untuk menurunkan berat badan kadang cukup efektif. Namun, tak jarang saat berhenti melakukan diet tersebut, berat badan kembali naik. Prinsip utama menurunkan berat badan adalah menurunkan asupan energi dan meningkatkan pembakaran. Makanlah sedikit, tapi sering (3 kali sehari dalam porsi kecil ditambah dua kali selingan). Masukkan dalam diet: golongan serealia (boleh saja mencampur nasi merah dengan nasi putih, bila bosan dengan rasanya), sayuran, buah, susu, dan daging, ikan, atau ayam.

Batasi jenis makanan yang memberi kalori ekstra, seperti kaya gula (minuman soda, permen, minuman berenergi), lemak (mayones, makanan yang digoreng), makanan berenergi tinggi (susu full cream dan biskuit).

Umumnya, orang mencoba mengurangi atau mengganti nasi, tapi tidak berusaha mengurangi proses menggoreng atau melakukan kebiasaan menumis dengan banyak minyak. Sebaiknya, batasi pemakaian minyak hanya 4-5 sendok teh.

Meningkatkan pembakaran artinya meningkatkan aktivitas fisik, bisa dengan jalan olahraga, melakukan kegiatan rumah tangga, hingga kegiatan yang fun seperti dansa.

Sumber: femina-online.com

Ngemil boleh, asal...

Ngemil di kantor sering menjadi pelarian rasa bosan dan stres saat kerja. Agar tidak kebablasan, simak penuturan ahli nutrisi American Dietetic Association, Katherine Tallmadge, seperti yang dikutip dari situs webmd.com:
  1. Makan sambil bekerja sangat tidak dianjurkan! Sementara pikiran terpusat pada pekerjaan, tangan dan mulut akan terus-menerus menjejalkan kalori ke dalam tubuh tanpa kontrol.
  2. Batasi frekuensi ngemil. Maksimal 3 kali dengan jatah 100-200 kalori setiap kali ngemil.
  3. Pilih jenis camilan sehat rendah karbohidrat dan lemak, seperti roti gandum, yoghurt, atau segelas bubur oatmeal instan.

Ngemil boleh, asal...

Ngemil di kantor sering menjadi pelarian rasa bosan dan stres saat kerja. Agar tidak kebablasan, simak penuturan ahli nutrisi American Dietetic Association, Katherine Tallmadge, seperti yang dikutip dari situs webmd.com:

  1. Makan sambil bekerja sangat tidak dianjurkan! Sementara pikiran terpusat pada pekerjaan, tangan dan mulut akan terus-menerus menjejalkan kalori ke dalam tubuh tanpa kontrol.
  2. Batasi frekuensi ngemil. Maksimal 3 kali dengan jatah 100-200 kalori setiap kali ngemil.
  3. Pilih jenis camilan sehat rendah karbohidrat dan lemak, seperti roti gandum, yoghurt, atau segelas bubur oatmeal instan.

Sabtu, 16 Mei 2009

Humor Rohani

MEMUAI DAN MENGERUT

Guru: Bisakah kamu memberi contoh yang bagus tentang bagaimana panas
membuat sesuatu menjadi lebih lebar/panjang dan dingin
membuat sesuatu itu mengerut?

Murid: Ehmm ..., belajar pada waktu musim kemarau itu biasanya terasa
sangat lama sekali ....

-------------------------------------------------------------------------------

KUTU RAMBUT

Seorang guru bertanya kepada muridnya yang sedang menggaruk-garuk
kepala.

Guru: Mengapa kamu menggaruk kepalamu seperti itu?

Murid: Ada serangga aritmatika di kepalaku?

Guru: Serangga aritmatika ...? Apa itu?

Murid: Beberapa orang menyebutnya kutu rambut.

Guru: Lalu mengapa kamu menyebutnya serangga aritmatika?

Murid: Karena mereka menambah penderitaanku, mengurangi kebahagiaanku,
membagi perhatianku, dan jumlah mereka berlipat kali ganda
cepat sekali.

---------------------------------------------------------------------------------------------

MALAH MAIN KARTU

Guru kelas 1A tidak masuk. Bu guru Monty bertugas untuk
menggantikannya.

"Anak-anak, Ibu akan mengajar matematika. Nah, siapa yang sudah pandai
berhitung?" tanya Ibu Monty.

"Saya, Bu! Saya, Bu!"

"Ya, kamu, yang duduk di pojok!"

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan,
sepuluh, jack, queen, king."

Bu Guru: "Haa ...! #!%$!@?!"

Sumber: humor.sabda.org

Bagaimana Yesus Mengembangkan Wanita Sebagai Pemimpin?

Pada era Perjanjian Baru, metode pemuridan yang intensional dikenal secara luas sebagai metode mengajar, dan Yesus menggunakannya untuk melatih para pemimpin masa depan gereja-Nya. Dalam dunia literatur kepemimpinan Kristen yang terus berkembang, cara Yesus mengembangkan pemimpin sering digunakan juga sebagai model untuk mengembangkan pemimpin masa kini. Contohnya, berdasarkan Markus 3:13-19, Yesus memilih dua belas murid, menunjuk mereka untuk menjadi pengikut-Nya, dan mengutus mereka (memilih, mengajar, memercayakan). Model lain didasarkan pada Lukas 5:1-11, di mana Anda dapat melihat Yesus memilih dua belas orang dan melatih mereka menjadi pemimpin di masa depan.

Lalu bagaimana dengan wanita? Jika pada era gereja mula-mula kita melihat wanita muncul dalam kepemimpinan bersama para pria, apakah mungkin untuk melihat bagaimana para wanita juga dipilih, dilatih, dan diutus mengemban tugas kepemimpinan? Saya yakin iya. Dalam Injil, kita dapat melihat bagaimana Yesus, sambil memilih dua belas orang sebagai murid, juga mulai mengembangkan wanita, mengubah tradisi pola pikir, dan mulai memulihkan rekanan antara pria dan wanita dalam gereja dan dunia yang rusak sejak jatuhnya manusia dalam dosa.

DUA BELAS MURID DAN PARA WANITA

Yesus memilih dua belas pria sebagai murid-Nya. Hal ini terkadang digunakan sebagai alasan mengapa wanita seharusnya tidak turut andil dalam pelayanan dan kepemimpinan. Jelas kedua belas murid itu menduduki posisi yang spesial, namun di antara mereka yang dekat dengan Yesus, ada juga sejumlah pengikut wanita, dan Yesus mengembangkan mereka sebagai pemimpin. Fakta bahwa wanita adalah murni pengikut, dalam budaya di mana ada sedikit wanita yang melek huruf dan memiliki pendidikan formal, bertentangan dengan kehidupan masa kini. Dengan mengumpulkan temuan-temuan terbaru dalam ilmu pengetahuan Injil, adalah mungkin untuk mengatakan bahwa Yesus tidak hanya mendorong wanita untuk mengikut-Nya, tapi juga untuk memimpin orang lain. Lukas 8:1-3 adalah ayat kuncinya. Di sana, kita dapat melihat sejumlah wanita menemani Yesus, bersama dengan kedua belas murid (yang disebutkan dalam Lukas 6:12-19). Menurut Richard Bauckham, dalam Gospel Women, ayat 1-3 adalah pernyataan ringkas yang mengindikasikan bahwa peristiwa itu terjadi berulang kali dalam periode waktu yang tak menentu. Dengan kata lain, meski ayat itu adalah referensi kecil, ayat itu mengindikasikan bahwa wanita berjalan bersama Yesus secara rutin.

Bauckham juga menantang terjemahan NRSV, dan mengatakan bahwa teks Yunani dengan jelas mengatakan bahwa Yesus "bersama" dengan kedua belas murid dan para wanita: "Kedua belas murid bersama-Nya, juga para wanita ...." Di sini Yesus mengategorikan murid-murid-Nya menjadi dua kategori besar, dua belas pria dan wanita. Fakta bahwa wanita ada untuk membantu Yesus bukanlah intinya, inti pentingnya ialah bahwa para wanita itu bersama Yesus. Itulah makna pemuridan, dan baik pria maupun wanita sepertinya sederajat; tinggal menunggu waktu saja sampai Yesus mendelegasikan pelayanan-Nya kepada semua murid-Nya.

Bauckham juga menegaskan bahwa wanita tidak ditugasi dengan hal-hal yang biasanya wanita lakukan dalam rumah tangga. Dalam teks Yunani dikatakan bahwa tidak ada pria yang membantu pelayanan Yesus dalam bentuk materi, hanya murid yang wanita saja yang memberikan bentuk bantuan tersebut kepada Yesus dan murid-muridnya. Dua belas murid pria sama-sama telah mengorbankan dan meninggalkan rumah dan keluarga mereka untuk mengikut Yesus (Lukas 5:11). Untuk seorang wanita terhormat seperti Yohana, mengikut Yesus juga merupakan pengorbanan besar. Bergabung dengan suatu kelompok seperti Yesus dan murid-murid-Nya yang bisa dikatakan bukan kelompok elit pada saat itu, pasti menjadi sebuah skandal besar.

Hampir semua Injil menuliskan wanita-wanita yang menemani Yesus dalam perjalanan pelayanan-Nya (Matius 27:55-56; Markus 15:40-41; Lukas 23:49). Para wanita ada di kubur Yesus (Lukas 23:49) dan menyaksikan kebangkitan (Lukas 24:1-11). Dalam Injil Yohanes, wanita digambarkan sebagai sosok yang patut diteladani dengan Maria Magdalena sebagai contoh utamanya.

Jadi, para intelektual menyimpulkan bahwa perbedaan antara kelompok pengikut Yesus yang pria dan wanita tidak sebesar anggapan selama ini. Para wanita "bersama"-Nya di sepanjang pelayanan-Nya, mengamati-Nya, dan siap sedia untuk meneruskan pelayanan-Nya setelah kebangkitan-Nya.

PARA WANITA DI KAKI YESUS

Yesus menyambut banyak wanita berbeda sebagai pengikutnya: Maria dari Betania, wanita di sumur, wanita Kanaan, dan lainnya yang tidak disebutkan. Maria duduk dekat kaki Yesus, yang menurut Tom Wright adalah sikap wajar seseorang yang merupakan seorang murid dan akan menjadi seorang pengajar. Dan Yesus menegur saudarinya, Martha, karena menyibukkan diri dengan hal-hal yang dianggap harus dilakukan oleh seorang wanita (Lukas 10:41-42). Meski perbedaan perilaku antara Maria dan Martha terkadang digunakan untuk mengekplorasi gaya hidup yang aktif dan reflektif, apa yang dilakukan Maria adalah contoh yang jarang sekali terjadi -- apa yang dilakukannya berkebalikan dengan harapan tentang seperti apa dan apa yang harus dilakukan oleh seorang wanita.

Tulisan Yohanes mengenai kematian Lazarus (Yohanes 11:17-44) juga perlu diperhatikan. Inti dari kisah tersebut bukanlah Lazarus, namun percakapan antara Yesus dengan Maria dan Martha, terutama Martha. Pengakuan imannya mengungkapkan bahwa ia telah sungguh-sungguh belajar, dan ia membuat suatu deklarasi yang paling jelas akan imannya terhadap Injil. Maria juga menunjukkan keterusterangan dan iman yang sama.

Dalam Yohanes 12:1-8, kita melihat bagaimana Maria mengurapi kaki Yesus -- menariknya, peristiwa itu mengawali pembasuhan kaki murid-murid oleh Yesus di pasal yang ke-13. Interrelasi antara dua pasal tersebut menunjukkan bagaimana Maria memberikan teladan pelayanan dan pemuridan, dan partisipasi dalam penderitaan dan kematian Yesus.

RASUL KEPADA PARA RASUL

Akhirnya, penampakan Yesus dan penugasan Maria Magdalena setelah kebangkitan-Nya, adalah hal yang paling menarik. Dalam pemikiran populer, nama Maria mendapat citra buruk karena adanya Maria-Maria yang lain dan asumsi yang tidak benar bahwa ia adalah seorang pelacur. Dari semua wanita yang mengenal Yesus, hanya Maria, ibu-Nya, yang disebutkan lebih sering daripada Maria Magdalena. Empat penulis Injil menganggapnya sebagai pengikut Yesus yang paling setia, dan ia muncul dalam sembilan daftar yang berbeda yang kesemuanya berisi nama-nama perempuan -- cuma satu daftar yang tidak menempatkan namanya pada urutan paling atas. Di antara pengikut Yesus, nama Maria paling sering muncul di Alkitab daripada nama kedua belas murid.

Ketika Maria mengetahui bahwa Yesus telah bangkit, ia berteriak, "Rabuni", yang diartikan Yohanes sebagai "guru" (Yohanes 20:16). Hal itu, dan fakta bahwa ia adalah salah satu wanita yang bepergian ke mana-mana dengan Yesus dan belajar dari-Nya, mengisyaratkan bahwa ia adalah benar-benar murid Yesus, belajar dari-Nya untuk bekal saat ia menjadi pengajar dan pemimpin.

Untuk murid-murid yang pertama, menjadi pengikut Yesus adalah lebih daripada menjadi pengikut guru-guru lainnya. Masa depan iman Kristen tergantung pada murid-murid Guru Yesus dan bagaimana mereka berhasil memberikan apa yang mereka dapat dari-Nya, dengan mengajarkan apa yang Ia ajarkan pada mereka dan dengan saling mengasihi seperti Ia mengasihi mereka. Tampaknya wanita termasuk di dalamnya.

Inti ceritanya ada di taman, di mana Yesus memandati Maria dengan tugas untuk memberitakan kabar sukacita kebangkitan pada saudara-saudaranya, sebelas rasul. Tidak heran jika ia disebut "rasul kepada rasul-rasul", dan jika kualifikasi sebagai rasul adalah bersama Yesus dan menyaksikan kebangkitan, maka dia (dan wanita lain) bisa dikatakan rasul, meskipun posisi mereka tidak secara formal diklaim sebagai pengganti Yudas (Kisah Para Rasul 2:21-22).

Seperti dikatakan Carolyn Custis James, secara budaya, sah-sah saja untuk para rasul membatasi wanita pengikut Yesus setelah Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Tapi tidak demikian bagi Yesus. Ia telah mengangkat wanita dengan melibatkan mereka sebagai murid dan pada saat kebangkitan-Nya, Ia menegaskan pelayanan mereka sebagai pembawa pesan. Para penulis Injil tergantung pada kesaksian wanita seperti Maria ibu Yesus dan Maria Magdalena untuk menuliskan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Maria ibu-Nya, dan "beberapa wanita" yang ada di sana setelah kebangkitan, bertekun berdoa dan menunggu masa depan yang terbentang (Kisah Para Rasul 1:14).

Dari contoh di atas, kita dapat melihat bahwa Yesus membuka jalan baru, sikap baru terhadap wanita, melihat apa peran mereka bagi Allah, bukannya peran yang didikte oleh masyarakat. Saat Ia mempersiapkan dua belas murid pria, Ia juga memersiapkan para wanita yang memilih untuk mengikut Dia di sepanjang pelayanan-Nya. Dan saat roh Kudus tercurah pada Pentakosta, umat Allah yang baru terbentuk, dan wanita, seperti halnya pria, diberi wewenang. Pada gereja-gereja pertama, pembedaan ras, kelas, dan jenis kelamin dihapuskan; kualifikasi pelayanan tergantung (dengan beberapa kelonggaran budaya) tidak lagi pada jenis kelamin dan status sosial, tapi pada anugerah, dan para wanita yang telah "bersama" Yesus itu mampu melayani, sampai dibuatnya batasan-batasan untuk wanita melayani bersama-sama pria. (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Published in e-Leadership, 10 April 2008, Volume 2008, No. 29

Sumber: http://lead.sabda.org

Wanita Dan Kepemimpinan

Menurut Hennig dan Jardim dalam buku "The Managerial Woman", kebanyakan wanita melihat dirinya sebagai seseorang yang ragu, bimbang, bingung akan tujuan-tujuan mereka dalam hidup, dan menunggu dipilih atau disadari keberadaannya oleh pria. Mereka tidak suka mengambil risiko dan mereka menjadi gelisah dalam situasi di mana mereka tidak mengetahui banyak hal. Jika demikian, bagaimana bisa wanita menjadi pemimpin? Sifat-sifat seperti itu bertentangan dengan sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin -- seseorang yang bertanggung jawab, menetapkan tujuan, mengambil risiko, dan membuat keputusan. Oleh karena itu, wanita dapat menjadi pemimpin mungkin karena mereka dididik dengan cara yang berbeda atau mereka mengenali potensi kepemimpinan yang ada dan telah belajar untuk memimpin. Para peneliti menemui bahwa para wanita yang suka memimpin tidak menganggap diri mereka sebagai wanita dan berbeda; mereka melihat diri mereka sebagai manusia. Pola pikir mereka, begitu juga kemampuan mereka, memampukan mereka menjadi pemimpin. Mereka berorientasi untuk bersaing dan menyelesaikan tugas.

Mereka tidak hanya belajar untuk melatih kekuatan pribadi mereka, mereka juga sudah sanggup mengesampingkan emosi mereka di situasi yang membutuhkan penilaian yang jelas. Mereka bukannya tidak emosional, tapi mereka telah belajar memahami diri dan mengendalikan perasaan mereka. Seorang wanita yang berprofesi sebagai pemimpin organisasi pendidikan menceritakan pengalamannya mengendalikan emosi dan rasa empati. "Saya rasa Anda harus tangguh secara fisik, juga secara psikologis dan emosional sehingga apa pun yang terjadi tidak membuat Anda lemah. Sulit untuk tetap sensitif terhadap sesuatu yang sangat penting bagi orang lain saat apa pun yang Anda lakukan sepertinya menyepelekan apa yang mereka anggap penting. Saya harus belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menempatkan diri dalam posisi mereka."

Menjadi kompeten bukan berarti menjadi wanita Kristen yang memimpin tanpa memedulikan orang lain. Mereka dapat memecat seseorang sekaligus menunjukkan rasa prihatin. Seorang pemimpin wanita mengatakan betapa sulitnya untuk memecat seorang karyawan. "Pemecatan dapat mengubah kehidupan seseorang dengan begitu drastis. Jika secara emosional mereka tidak siap, pemecatan bisa sangat melukai hati mereka. Saya pernah memecat seseorang, namun itu saya lakukan setelah saya berbicara dengan mereka dan menjelaskan kepada mereka alasan mengapa mereka dipecat. Terkadang memecat seseorang bisa sangat mendorong Anda ke depan; pemecatan bisa menjadi suatu batu loncatan."

Memiliki kualifikasi sebagai pemimpin tidak akan ada manfaatnya bagi wanita jika ia tidak dapat menembus posisi yang lebih tinggi dalam struktur organisasi di mana ia bekerja. Hanya ada sedikit wanita yang menduduki posisi teratas atau kedua teratas dalam industri dan pemerintahan. Di bawah posisi teratas terdapat beberapa tingkatan manajer yang diduduki oleh sedikit wanita. Hal itu karena para wanita yang menduduki posisi atas telah terbukti kemampuannya -- wanita-wanita yang telah diperhitungkan karena mereka kompeten.

Dunia organisasi pria dikarakterisasi oleh perangkat hubungan -- jaringan -- informal di mana komunikasi penting terjadi di luar kantor. Seseorang yang berpotensi menjadi pemimpin memelajari apa yang mereka harapkan, apa yang terjadi di luar kantor, dan siapa "sponsor" mereka melalui jaringan itu. Kata "sponsor" atau "mentor" merujuk pada seorang senior yang tertarik kepada junior, mengenali potensi mereka, memberitahu seluk-beluk organisasi, dan membawa mereka kepada posisi yang lebih diperhitungkan. Sangat sulit bagi wanita untuk menembus jajaran atas di organisasi; kompetensi saja tidak cukup untuk mereka mendapatkan promosi.

Wanita Kristen dapat bergantung kepada peluang yang diberikan Tuhan untuk menempati posisi kepemimpinan, tapi jujur, mereka juga perlu memiliki keahlian politik. "Seseorang yang ingin bekerja dalam bidang kepemimpinan harus mengenali sifat politisnya." Terus terang, hal seperti itu sangat tidak Kristiani -- mencari tahu siapa yang punya posisi dalam perusahaan, menilai apakah seseorang mampu membantunya mencapai tujuan, membuat agar pimpinannya memerhatikan prestasi dan kualifikasinya. Orang Kristen diharuskan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, namun seperti yang lain, harus mendapatkan perhatian; dan mereka harus mencari sponsor agar mereka dapat menjadi pemimpin.

Kecerdasan politik sering kali datang melalui pengalaman pahit. Seorang wanita muda menjadi kandidat kuat untuk menempati posisi direktur program khusus dalam organisasinya. Namun setelah ia kembali dari sebuah liburan, ia menemui bahwa posisi itu telah ditempati oleh orang lain. Saingannya, wanita muda yang berkompeten lainnya telah menempati posisi itu karena dua alasan: ia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan wanita yang berlibur tersebut dan ia didukung oleh seorang senior pria dengan pengalaman manajerial yang panjang. Wanita yang kehilangan kesempatan itu tidak memiliki sponsor atau pendukung. Namun, ia belajar dari pengalaman. Dengan sabar ia menunggu selama dua tiga tahun dan menapaki semua langkah yang "benar" dalam tangga karier di perusahaannya. Ia mendapat banyak pengalaman, diperhatikan, dan mendapatkan reputasi bahwa ia kompeten. Kepala departemen akhirnya memberi apa yang ia perlukan. Ia menemukan sponsor -- lagi-lagi seorang pria karena tidak ada wanita dalam posisi tengah manajerial di tempat ia bekerja. Sponsornya mulai melatihnya menjadi kepala departemen.

Dalam gaya dan kepribadian, pemimpin wanita berbeda dengan pria, namun anggapan bahwa wanita suka meraja, yang didasarkan pada pandangan masyarakat, masih menjadi sesuatu yang umum. Orang-orang berpikir bahwa pemimpin wanita sering kali iri hati, emosional, picik, perfeksionis, suka mencari kesalahan, dan sangat mementingkan detail. Ternyata itu bukanlah karakteristik wanita, karakter-karakter itu muncul saat mereka tak berdaya, karakter-karakter itu adalah mekanisme pertahanan. Wanita yang benar-benar bebas menjadi diri sendiri dan merasa nyaman dalam posisi kepemimpinan, bebas untuk mengizinkan orang lain mendapatkan lebih banyak kebebasan. Mereka tidak menunjukkan sikap suka meraja seperti yang masyarakat umum pikirkan. Malahan, mereka sanggup berpikir mengenai tujuan jangka panjang dan mengembangkan gaya kepemimpinan yang kreatif dan khas.

Ada dua hal yang mengarakterisasi pemimpin Kristen dalam melaksanakan tugasnya, yaitu keterbukaan dan mau melayani. Memimpin adalah masalah mengeluarkan yang terbaik dari orang-orang yang dipimpin dan menyesuaikannya dengan pekerjaan yang cocok. Untuk melakukannya, dibutuhkan tidak hanya kemampuan untuk memanfaatkan sumber yang ada untuk mencapai sasaran, tapi juga kapasitas untuk mengembangkan kepercayaan. Tujuan organisasi tidak bisa hanya diketahui oleh pemimpin; tujuan itu harus disosialisasikan kepada semua orang dalam organisasi. "Saya merasa lebih puas saat saya berhasil meyakinkan seseorang dengan kekuatan gagasan saya," kata seorang wanita, "daripada mengatakan `Anda jelas akan melakukan apa yang saya gagaskan karena saya memiliki otoritas untuk menyuruh Anda melakukannya.` Saya mencoba mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Melibatkan mereka. Menggerakkan mereka. Membawa mereka keluar dari jalur kalau perlu. Saya ingin memimp in mereka, dan bukannya memaksakan kehendak saya sendiri."

Pemimpin yang memandang dirinya sendiri sebagai pelayan, menghindari jebakan pemenuhan diri akan kuasa, harga diri, dan gaji yang turut ada dalam sebuah kepemimpinan sekuler. Yesus adalah teladan pemimpin yang memiliki otoritas sekaligus hati yang melayani. Ia menggunakan otoritasnya untuk menguatkan orang-orang yang dipimpinnya. "Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:33-35) Para pemimpin wanita dapat memanfaatkan sensitivitasn ya terhadap hubungan pribadi untuk mewujudkan sikap melayani itu saat mereka bertindak sebagai fasilitator dan pendorong. Saat pemimpin wanita melakukan hal itu, tujuan konkrit dalam hal sasaran organisasi dapat tercapai, dan yang terpenting, mereka menyentuh kehidupan banyak orang. "Kepuasan dalam memimpin adalah melihat bahwa Anda mampu membantu orang lain untuk melakukan sesuatu yang baik. Penghargaan itu urusan kedua. Anda akan melihat yang lain melakukan lebih banyak hal daripada orang yang Anda pimpin jika Anda tidak bersama orang yang Anda pimpin untuk membantu dan mendorong mereka atau memfasilitasi atau menyatukan mereka." (t/Dian)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Published in e-Leadership, 10 April 2008, Volume 2008, No. 29



Sumber: http://lead.sabda.org

Wanita, Derajat, Dan Kepemimpinan

Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dia juga memberikan keunikan tersendiri kepada setiap manusia ciptaan-Nya. Meskipun demikian, di hadapan Allah manusia itu sama berharganya, Dia mengasihi kita dan Dia juga mau setiap manusia, laki-laki dan perempuan, melakukan pekerjaan dan rencana-Nya bagi dunia ini. Namun tidak dapat dimungkiri, kerap terjadi diskriminasi jenis kelamin yang dilakukan oleh manusia sendiri. Seperti halnya di Indonesia. Dulu saat R.A. Kartini memulai perjuangannya untuk membela emansipasi wanita, perempuan hanya diperlakukan sebagai "konco wingking" (teman di belakang), yang memunyai hak lebih rendah dari laki-laki, bahkan diperlakukan dengan tidak layak. Kini, perjuangan R.A. Kartini membuahkan hasil. Perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan.

Perempuan sudah seharusnya memiliki harkat dan martabat yang sejajar dengan laki-laki. Yesus pun sudah memberi contoh bagi kita. Selama pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya mempersiapkan dua belas murid laki-laki saja, tetapi juga mempersiapkan para wanita untuk terlibat dalam pelayanan, bahkan mengembangkan mereka sebagai pemimpin. Simak selengkapnya di sajian edisi e-Leadership kali ini.

Semoga sajian bulan April ini memberikan pandangan secara Kristen bagi para calon dan pemimpin mengenai wanita dalam dunia kepemimpinan.

Selamat belajar dan memimpin!

Staf Redaksi e-Leadership, Puji Arya Yanti

"Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi." (Kisah Para Rasul 2:17)

Published in e-Leadership, 10 April 2008, Volume 2008, No. 29

Sumber: http://lead.sabda.org